JAKARTA – Santosodetiknews.com- ,Sosok Kapolri Suyudi mendapat perhatian publik karena dinilai menunjukkan sikap santun, rendah hati, dan bersahaja dalam menjalankan kepemimpinannya. Karakter tersebut dinilai menjadi harapan baru bagi institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di tengah tuntutan masyarakat terhadap penegakan hukum yang berintegritas.
Pandangan tersebut disampaikan AA LaNyalla Mahmud Mattalitti dalam sebuah tulisan opini bertajuk “Menanti Hoegeng di Era Modern: Oase Kapolri Suyudi”, yang diterbitkan Harian Nasional News, Minggu (8/11/2026).
Dalam tulisannya, LaNyalla menilai bahwa kekuasaan merupakan ujian besar bagi karakter seseorang. Semakin tinggi jabatan yang diemban, semakin besar pula tuntutan untuk menjaga kerendahan hati dan tidak terjebak dalam sikap kesombongan.
Ia melihat sikap Kapolri Suyudi yang tenang, santun, dan tidak menunjukkan kesan angkuh sebagai sesuatu yang positif di tengah harapan masyarakat terhadap kepemimpinan Polri.
Terinspirasi Keteladanan Jenderal Hoegeng
Sikap tersebut mengingatkan masyarakat pada sosok legendaris Jenderal Hoegeng Iman Santoso, mantan Kapolri yang dikenal luas karena integritas, kesederhanaan, dan keberaniannya dalam menegakkan hukum.
Hoegeng bukan hanya dikenang sebagai figur yang menolak praktik suap, tetapi juga sebagai pemimpin yang mampu memperlakukan masyarakat secara manusiawi tanpa membedakan status sosial maupun jabatan.
Keteladanan Hoegeng menjadi gambaran bahwa seorang pemimpin kepolisian harus memiliki integritas, ketegasan, serta sikap humanis dalam melayani masyarakat.
Kesantunan Harus Diikuti Ketegasan
Menurut LaNyalla, kesantunan yang ditunjukkan Kapolri Suyudi merupakan modal awal yang sangat berharga. Namun, masyarakat tentu mengharapkan lebih dari sekadar penampilan kepemimpinan yang bersahaja.
Kesantunan tersebut diharapkan dapat diwujudkan melalui keberanian membersihkan institusi dari oknum yang mencederai kepercayaan masyarakat, menolak intervensi politik, serta memastikan hukum ditegakkan secara adil.
Tantangan Polri saat ini juga semakin kompleks, mulai dari kejahatan siber, konflik kepentingan, hingga meningkatnya pengawasan publik melalui media sosial.
Karena itu, kepemimpinan yang berintegritas harus mampu menjawab tantangan zaman sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.
Harapan Lahirnya Hoegeng Masa Kini
LaNyalla berharap Kapolri Suyudi mampu melanjutkan citra kepemimpinan yang santun dengan keberanian dan ketegasan dalam menegakkan keadilan.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan sosok pengayom yang tidak hanya memiliki kewibawaan, tetapi juga mampu melindungi rakyat kecil dan memastikan hukum tidak tunduk pada kepentingan kelompok tertentu.
Harapan terhadap hadirnya sosok Hoegeng modern bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan kerinduan masyarakat terhadap kepolisian yang bersih, profesional, humanis, dan berani menegakkan kebenaran.
Pada akhirnya, keberhasilan seorang Kapolri tidak hanya diukur dari jabatan dan kewenangannya, tetapi juga dari warisan integritas, keadilan, serta kepercayaan masyarakat yang berhasil dibangun selama masa kepemimpinannya.(Red)
